Sejak lama, nilai-nilai demokrasi sudah hidup dalam masyarakat Bugis Makassar. Budaya musyawarah untuk mencapai mufakat sudah dipraktekkan suku Bugis Makassar sejak jaman dahulu, yang dikenal dengan istilah tudang sipulung. Tudang Sipulung dalam bahasa Bugis Makassar, secara harfiah dapat diartikan “duduk bersama”, yaitu “tudang” (duduk) dan “sipulung” (berkumpul atau bersama sama).  Jika dihubungkan dengan persoalan hubungan ketata pemerintahan  maka secara kultural politis hal tersebut berhubungan dengan masalah ruang publik atau ruang bagi publik (rakyat) untuk menyuarakan kepentingan-kepentingannya dalam rangka mencari solusi atas permasalahan permasalahan yang mereka hadapi. Artinya bahwa tudang sipulung ini merupakan ruang yang dapat memediasi antara kepentingan publik dengan pemerintah (penguasa) karena berlangsungberdasarkanprinsip-prinsipdemokratis.

Pemahaman mengenai konsepsi ruang publik bagi suku Bugis Makassar, tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari konteks nilai-nilai tradisional yang masih dianut dan diakui oleh sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan sampai sekarang. Nilai nilai adat yang menjadi landasan hukum dan filosofis kehidupan tersebut adalah adat. Adat bagi sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan, merupakan kepribadian kebudayaan, karena adatlah yang menjadi penggerak kehidupan suatu masyarakat.

Keputusan yang diambil dalam tudang sipulung harus berdasarkan prinsip mengalir bersama, yang artinya bahwa keputusan yang akan dicapai dalam musyawarah merupakan keputusan atas kehendak bersama dan untuk kepentingan bersama, yang diibaratkan bagaikan air yang mengalir bersama-sama. Antara kehendak penguasa (pemerintah ) dan kehendak rakyat harus berjalan beriringan dalam menemukan titik temu berdasarkan kepentingan bersama.

Tudang Sipulung atau duduk bersama membahas berbagai persoalan. Salah satu yang sering dilaksanakan secara periodic adalah membahas rencana  menyangkut usaha tani padi yang rutin dilakukan petani padi. Pelaksanaannya dilakukan berjenjang mulai dari tingkat Desa, Kecamatan hingga Kabupaten. Seluruh petani atau perwakilan petani (kontaktani), pemerintah, penyuluh dan stakeholder lainnya duduk bersama guna menetapkan jadwal tanam yang tepat, jenis varietas yang akan digunakan, waktu tanam dan dosis pemupukan yang tepat. Tudang Sipulung juga dilakukan untuk merumuskan paket rekomendasi teknologi  komoditas padi setiap musim tanam.

Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 11 Oktober 2016, Tudang Sipulung dilaksanakan di Kabupaten Bone tepatnya di Kecamatan Kahu membahas tentang rencana tanam Padi, Jagung dan  Kedelai    (PAJALE). Peserta Tudang sipulung adalah perwakilan petani (KontaktanI) dari seluruh Kecamatan se Kabupaten Bone, para Pallontara dari berbagai Kecamatan se Kabupaten Bone, Penyuluh pertanian. Dari Unsur Pemerintah hadir Bupati Kab. Bone DR. A. Fashar Pajalangi, Muspida dan SKPD se Kab Bone. Bertindak sebagai narasumber dalam acara Tudang Sipulung adalah Tim Teknis dari Propinsi termasuk dari BPTP Sulawesi Selatan. Pada acara Tudang Sipulung kali ini Bupati Kab Bone memberikan bantuan bibit Padi dan Jagung kepada Kelompoktani.