Sektor pertanian merupakan tumpuan utama penyediaan pangan bagi 250 juta penduduk Indonesia, khusus untuk pangan, Indonesia mempunyai tantangan yang tidak ringan dengan pola konsumsi pangan yang semakin beragam dari sisi kuantitas dan kualitas.

Setiap tahun minimal harus tersedia 33 juta ton beras, 16 juta ton jagung, 2,2 juta ton kedelai, 2,8 juta gula serta 484 ribu ton daging sapi.

Tantangan tersebut dibarengi dengan ancaman dari keragaman dan perubahan iklim, utamanya adalah kejadian iklim ekstrim yang semakin intens.

Strategi Kementerian Pertanian dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dilakukan secara sistematis dan terintegrasi yang didasari dengan penelitian dan kajian komprehensif untuk menghasilkan informasi, teknologi  dan rekomendasi, terutama dalam pengelolaan berkelanjutan sumber daya iklim dan air.

Dalam rangka mengkomunikasikan dan penajaman hasil-hasil penelitian dan kajian tersebut diselenggarakan kegiatan Temu Lapang dan Ekspose Teknologi pada tanggal 18-21 Oktober bertempat di Hotel Four Point by Sheraton Makassar.

Kegiatan ini mengangkat tema Upaya Khusus Optimalisasi Sumber Daya Air Lahan Kering 4 juta  Ha untuk meningkatkan serta mengamankan luas tanam dan produksi pada kondisi iklim ekstrim.

Acara ini di buka oleh Ka. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang di wakili oleh Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Ags  (Ka Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian).

Turut hadir dalam acara ini Prof. Dr. Budi I. Setiawan (TAM Infrastruktur Pertanian Kementan), Prof. Irsa Las (Dewan Penasehat PERHIMPI), Dr. Kasdi Subagyono, M.Sc (Ka. Biro Perencanaan Kementan).

Tujuan kegiatan ini : 1) Melakukan ekspose teknologi pengelolaan iklim ekstrim dan air, 2) Menjarig umpan baik teknologi pengelolaan sumberdaya iklim dan air untuk antisipasi dampak iklim ekstrim, 3) Menyebarkan informasi prediksi iklim MH 2016/2017 untuk mendukung UPSUS, dan 4) Menyusun deklarasi Makassar yang .menyatakan komitmen bersama untuk mengatasi dampak kejadian iklim ekstrim pada sektor pertanian.

Peserta temu lapang dan ekpose teknologi sebanyak 200 orang berasal dari Perguruan Tinggi, KUHK, BPPT/Ristek, LIPI, BMKG, LAPAN, BIG, Pemerintah Daerah (Bappeda dan Diperta), BUMN, LSM, Swasta, Kementerian Pertanian (Bioren, , Ditjen TP, Ditjen PSP, Ditjen Horti, UK, UPT Badan Litbang), masyarakat yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap perubahan iklim, dan lain-lain.