Indonesia sudah berangan-angan menjadi negara swasembada daging sapi sejak 2005. Target swasembada pada 2010 dan 2014 ternyata meleset.  Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencanangkan swasembada daging sapi di Indonesia dapat tercapai dalam 10 tahun ke depan.

Melihat potensi yang ada  sangat memungkinkan kita bisa mencapai target tersebut tetapi harus konsisten, dilakukan terus menerus, dan  butuh waktu 9-10 tahun.

Target sepuluh tahun itu terbilang lama karena perlu banyak pembenahan dari hulu sampai hilir. Di hilir,  Indonesia membutuhkan sekitar 2-3 juta sperma beku dalam setahun. Menurut Jokowi, proses menuju swasembada daging sapi memerlukan waktu dan bukan proses instan. Kita harus menyeleksi untuk mendapatkan sapi-sapi yang mempunyai performa yang bisa dipakai untuk menghasilkan sperma, yang nantinya itu dibagikan kepada industri dan petani.

Minimnya pembibitan dalam negeri menjadi alasan populasi sapi tak berkembang. Untuk itu, jalan menuju swasembada daging sapi adalah memperbanyak program pembibitan oleh swasta maupun BUMN dengan kerja sama peneliti.

Sampai saat ini, produksi daging sapi sebagian besar (90 persen) berasal dari peternakan rakyat dan sisanya dari perusahaan dan peternakan milik pemerintah. Peternakan rakyat selain skala kepemilikannya kecil, juga sifat komersialnya belum terbangun dengan baik sehingga seringkali sapi betina dewasa yang masih produktif dijual atau dipotong.

Saat ini ada tujuh lokasi bagus yang sudah melibatkan swasta, peneliti LIPI (di bawah Dikti). Sementara tempat lain, seperti di Mangatas di Sumatera Barat dikerjakan total oleh Kementerian Pertanian.

Program swasembada daging sapi memiliki arti kemampuan penyediaan daging sapi dalam negeri sebesar 90 - 95 persen dari total kebutuhan daging nasional. Saat ini kebutuhan daging sapi nasional dipenuhi melalui impor.

Bagi masyarakat luas, program swasembada daging akan ikut serta dalam penyediaan gizi dan protein hewani karena Indonesia merupakan negara dengan konsumsi terendah di ASEAN. Jika dibandingkan dengan Malaysia yang konsumsinya mencapai 46,87 kilogram per kapita per tahun, Indonesia hanya mencapai 4,5 kilogram per kapita per tahun.

Swasembada juga diharapkan dapat mengurangi biaya impor dan menekan harga daging sapi dalam negeri. Presiden mengatakan harga daging di negara lain bisa Rp 55.000 – Rp.60.000 per kilogram. Mestinya kita di sini juga mengarahnya ke sana. Jokowi mentargetkan harga daging sapi di Indonesia Rp 80.000.

Sebelum swasembada, mau tidak mau untuk konsumsi sementara sebagian impor. Presiden mengingatkan, kalau kita tidak impor justru induk-induk sapi betina yang baik-baik akan disembelih. Ini yang bahaya. Ini yang harus dihindari juga, katanya.

Untuk mendukung pencapaian swasembada daging sapi, maka Badan Litbang Kementerian Pertanian melalui BPTP termasuk BPTP  Sulawesi Selatan mengarahkan kegiatan Penelitian dan Pengkajiannya kearah peningkatan populasi ternak sapi dan peningkatan produksi/kualitas daging sapi serta pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk organik. Salah satu kegiatan yang dimaksud adalah Pengembangan Model Pembibitan Sapi Potong dan Pendampingan Kawasan Ternak Sapi.

Khusus kegiatan Model Pembibitan Sapi Potong mendukung Pertanian Bioindustri dilaksanakan di Kebun Percobaan Gowa dan telah dilakukan kegiatan diseminasi melalui Temu Teknis pada tanggal 18 Oktober 2016 bertempat di Kebun Percobaan Gowa. Peserta Temu Teknis adalah para petani/peternak di sekitar lokasi, Kelompoktani binaan BPTP Sulawesi Selatan dan para penyuluh pertanian. Sebagai narasumber pada Temu Teknis ini adalah para Peneliti BPTP Sulawesi Selatan serta menghadirkan DR. Ir. Aryogi, MP yaitu Peneliti dari Loka Penelitian Sapi Potong Grati.

Melalui kegiatan diseminasi/sosialisasi teknologi pembibitan sapi potong ini diharapkan terjadi peningkatan kemampuan dan ketertarikan para petani untuk melaksanakan pembibitan sapi potong. Partisipasi masyarakat tani dalam pembibitan sapi potong akan memacu peningkatan populasi sapi potong dan secara berangsur-angsur target swasembada daging dapat dicapai.