Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil utama kakao di Indonesia. Luas areal pertanaman kakao di Sulawesi pada tahun 2007 tercatat 932,762 ha. Secara nasional Sulawesi Selatan menyumbang + 70 % produksi kakao Indonesia. Ekspor kakao Indonesia pada tahun 2007 mencapai 655,429 ton dengan nilai US$ 950,6 juta, merupakan penghasil devisa terbesar ketiga pada sub sektor perkebunan.

Pada pengolahan buah Kakao dihasilkan bahan yang terbuang yaitu kulit buah, pulpa kakao dan lapisan selubung biji kakao basah. Kulit buah dan selubung biji kakao dapat digunakan sebagai pakan ternak, bahan bakar alternatif dan pektin. Sedangkan Pulpa Kakao biasanya hanya menjadi limbah yang mengganggu lingkungan di sekitar tempat pengolahan biji kakao. Pulpa Kakao terdiri dari senyawa gula, air dan lain-lain. Dengan sentuhan teknologi, limbah pulpa dapat diolah menjadi makanan yang berguna untuk kesehatan, yaitu nata de cocoa.

Sabtu, 24 November 2015, bertempat di Dusun Toangkajang, Desa Saluparemang Selatan, Kec. Kamanre diadakan pelatihan Teknis Model Pertanian Bioidustri pada Kawasan Sentra Pengembangan Kakao di Sulawesi Selatan. Pelatihan tersebut merupakan yang ke dua setelah sebelunya dilakukan pelatihan pemanfaatan limbah kakao menjadi kompos dan pupuk organik. Pada pelatihan ke dua masih dengan pemanfaatan limbah kakao (Pulp kakao) dengan materi Pengolahan Pulp Kakao menjadi Natade Kakao.

Acara dibuka oleh Ir. Basir Nappu, MS peneliti sekaligus penanggung jawab kegiatan Bioindutri BPTP Sul Sel di Kab. Luwu. Hadir dalam Pelatihan ini Kades Saluparemang Selatan Kec. Kamanre, Saharudin, SP selaku Kepala BPPKP dan Ojeng, SP selaku Ka BPP Kamanre. Instruktur dalam pelatihan tersebut adalah Ir. Andi Darmawidah dan Ir. Wanti Dewayani, M.Si peneliti bidang pasca panen BPTP Sul Sel. Peserta pelatihan berasal dari penyuluh, Kelompok tani Buah Harapan yang diketuai oleh Baramang dan Kelompok Wanita Tani Harapan Sejahtera yang diketuai oleh Nurhyati.