Salah satu program pemerintah yang saat ini  marak dibicarakan adalah pemanfaatan pekarangan rumah,  program ini oleh Badan Litbang dinamakan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) yang salah satu tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.

Sejak tahun 2012 di Kabupaten Sidrap MKRPL sudah dikenalkan, saat itu kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Lalebata kecamatan Pancarijang dengan kelompok wanita tani Pammase yang melibatkan 30 orang kelompok tani.  Kegiatan tersebut berkembang baik bahkan beberapa kelompok sekitarnya telah mengadopsi beberapa  model pertanaman seperti model vertikultur, model rak bambu bahkan beberapa rumah tangga mengembangkan kreativitasnya dengan memanfaatkan kemasan minyak goreng dan kemasan sabun kiloan sebagai bahan pengganti polybag.  Kegiatan MKRPL tersebut terus berkembang hingga tahun 2013 bertambah 2 lokasi di Kabupaten Sidrap, Lokasi I terletak di Desa carawali Kecamatan watangpulu, sedangkan lokasi 2 di Desa Sipodeceng Kecamatan Baranti, masing-masing lokasi melibatkan 30 orang anggota kelompok wanita tani sehingga jumlah keseluruhan tahun 2013 ada 60 orang.

Seiring dengan perkembangannya, kegiatan ini mendapat banyak respon dari pemerintah setempat, terutama Badan Koordinasi Penyuluh, Dinas Pertanian, aparat desa, aparat kecamatan, dan penyuluh setempat, terlebih respon yang begitu besar dari anggota kelompok tani.

Beberapa tahap kegiatan yang telah dilakukan adalah sosialisasi, pelatihan pembuatan kompos, pelatihan membuat jamur dan praktek pengolahan sayuran menjadi kripik.  Selain itu atas swadaya masyarakat/anggota kelompok telah malakukan study banding ke daerah Polman untuk lebih mengetahui bagaimana melakukan budidaya jamur dan mengolah produk sayuran menjadi kripik sayuran.

Gbr 1.Praktek Pembuatan Kripik Sayuran Gbr2 . Kripik Sayur Bayam

Sebelum ada kegiatan MKRPL, kegiatan ibu Rumah tangga umummnya gemar menanam bunga dalam pot, namun dengan adanya MKRPL ini, selain ada bunga, tanaman diperbanyak dengan menanam sayuran dan buah seperti tomat, cabe, kangkung, kol, bayam, sawi, terong, kacang panjang, seledri, markisa, bahkan petani juga sudah bisa membuat jamur sendiri dari berbagai limbah sayuran dan limbah rumah tangga.

Gbr 3. Kombinasi sayuran dan Bunga di pekarangan Gbr 4. Tanaman kol di pekarangan
Gbr 5. Jamur Merang dari Limbah Sayuran Gbr 6. Jamur Tiram dari limbah

Dari segi ekonomi, kegiatan bertanam sayuran ini sangat membantu ibu rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih bagi  ibu-ibu yang mempunyai jarak rumah dan pasar yang agak berjauhan, ditambah lagi kalau bukan hari pasar, biasanya sulit mendapatkan sayuran segar.  Dengan adanya kegiatan ini kebutuhan saya dan keluarga (sayuran, cabe, tomat), bahkan dapat terpenuhi, dan dapat menghemat pengeluaran saya sekitar Rp. 300.000/bln belum lagi jika berlebih dapat saya jual.  Lagi pula jika dibuat keripik, harganya bisa lebih tinggi lagi, ujar salah seorang ibu rumah tangga, wah. ...  bisa menambah pendapatan katanya.

Beberapa permasalahan yang dihadapi pada pelaksanaan MKRPL ini antara lain, masih besarnya ketergantungan kelompok pada pengadaan bibit, dan sarana serta belum berkembangnya mitra petani dalam pemasaran.  Meskipun sudah ada petani yang menjual sayuran di lahannya sendiri, namun itupun hanya menunggu dari pembeli saja yang sifatnya tidak menentu, sehingga perlu pemberdayaan kelompok terutama dalam hal pemasaran.

Dengan adanya program MKRPL ini diharapkan kemampuan keluarga dan masyarakat secara eknomi dan sosial dapat berkembang dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat sejahtera, sehingga ketahanan pangan nasional dapat tercapai.