Jakarta - Terkait kebijakan pembatasan impor jagung, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Gatot Irianto menegaskan semua pihak harus memperhatikan keseimbangan harga jagung. Sebab akan merugikan peternak maupun petani. 

"Jangan sampai harga terlalu tinggi karena akan merugikan peternak. Begitupun juga jangan sampai harga terlalu rendah karena merugikan petani jagung," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (11/11/2018).

Ia mengatakan hal tersebut saat menghadiri panen jagung di Kabupaten Lamongan dan Tuban, Jawa Timur. Turut hadir pada acara ini antara lain Bupati Lamongan Fadeli, Bupati Tuban Fatkhul Huda, Wa Aster Kasad Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo, dan Wakil Ketua Komisi IV DPR Viva Yoga.

Dilaksanakannya panen raya di sentra jagung tersebut menjadi salah satu bukti kebijakan pembatasan impor jagung memacu semangat petani untuk menanam jagung. 

Panen jagung di Lamongan dilakukan di Kecamatan Laren seluas 45 ha. Diperkirakan pada bulan ini akan panen seluas 1.413 ha dengan perkiraan produksi sebesar 9.499 ton PK (pipil kering).

"Stok jagung saat ini cukup, ada sekitar 6.800 ton stok jagung di Lamongan saat ini. Kabupaten Lamongan sebagai sentra produksi jagung di Jatim, bahkan di beberapa wilayahnya mampu mencapai produktivitas 9 ton/ha," ujar Bupati Lamongan, Fadeli.

Ke depannya, Fadeli mengarahkan agar fokus ke penggunaan benih unggul, memulai pola tanam rapat, serta melakukan percontohan lokasi tumpang sari padi dan jagung.

Sementara di Kabupaten Tuban, panen dilaksanakan di kecamatan Tambakboyo seluas 99 ha. Pada November ini diperkirakan akan panen seluas 4.037 ha dengan perkiraan produksi sebesar 21.762 ton PK. 

"Terima kasih atas bantuan dari Kementan, baik saprodi maupun pendampingan. Harga jagung di Tuban selama ini tidak pernah di bawah Rp 3.000 jadi petani di sini bisa tersenyum, yang dibutuhkan petani saat ini adalah alat pengering (dryer)," kata Bupati Tuban, Fatkhul Huda.

Ia juga mengungkapkan harga jagung saat ini sudah bagus yakni Rp 4.500/kg sehingga menguntungkan bagi petani jagung maupun peternak.

Pada acara ini, Kementan juga memberikan bantuan mesin pengering jagung sebanyak 5 unit di 5 titik lokasi agar permasalahan proses pengeringan jagung dapat teratasi. Diharapkan dengan diberikannya bantuan ini, kualitas jagung bagus dan diikuti juga dengan harga yang bagus. 

Dalam rangka program peningkatan produksi jagung, Kementan melalui Ditjen Tanaman Pangan turut memberikan bantuan benih jagung tahun 2018 seluas 2,8 juta ha. Dengan rata-rata produktivitas benih sebesar 5 ton per ha, maka produksi yang dihasilkan dari bantuan saja sudah mencapai 14,03 juta ton. Produksi tersebut belum ditambah dengan jagung yang dihasilkan secara swadaya oleh petani.

Bantuan benih jagung hibrida sebanyak 15 kg per ha merupakan kebutuhan benih yang dianjurkan oleh Badan Litbang Kementan. Rekomendasi tersebut digunakan dalam alokasi bantuan benih oleh Pemerintah. 

Setiap wilayah di Indonesia memiliki rekomendasi spesifik lokasi dalam penerapan budidayanya. Sementara kekurangan benih dari alokasi dapat ditambahkan oleh petani sendiri karena bantuan yang diberikan hanya bersifat stimulan. 

Kebijakan pembatasan impor jagung diyakini memacu semangat petani jagung. Wilayah-wilayah yang sebelumnya lahan kosong mulai ditanami jagung dan sentra jagung nasional yang awalnya hanya berada di 10 provinsi kini menyebar ke berbagai daerah lain sehingga memunculkan daerah sentra jagung baru.

Luas panen jagung pun meningkat signifikan dengan rata-rata perkembangan 15,16% per tahun dan produksi meningkat rata-rata 15,6% per tahun dari 2015 hingga 2018. Kenaikan ini dipicu oleh minat petani yang mulai tinggi untuk menanam jagung. 

Jumlah impor jagung dari tahun ke tahun pun semakin berkurang. Impor jagung pada 2016 sangat kecil dibandingkan 2015 yang sangat tinggi sebesar 3,25 juta ton. Bahkan pada 2017, Indonesia zero impor jagung. Hal lainnya dibuktikan dari dilakukannya panen raya di sentra jagung di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Gorontalo. (mul/ega)

Sumber : Detik.com