Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian telah banyak menghasilkan teknologi yang memungkinkan tercapainya peningkatan produksi pertanian dan pencapaian swasembada pangan, ekspor pertanian, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun masih banyak informasi dan teknologi yang dihasilkan oleh Balai dan Pusat Penelitian tidak sampai dan tidak diadopsi oleh petani, karen berbagai kendala, antara lain ; ( 1 ) proses penyampaian teknologi masih perlu disempurnakan. ( 2 ) Uji adaptasi rakitan teknologi dilahan petani masih terbatas. ( 3 ) perencanaan top-down masih dominan dibandingkan dengan bottom-up yaitu perencanaan penelitian yang dimulai dan berakhir pada petani, belum berjalan dengan baik. (4 ) sumber daya penelitian yang terbatas.

Untuk mempercepat penyediaan teknologi pertanian spesifik lokasi, pimpinan Kementerian Pertanian memberikan perhatian yang besar terhadap pelaksanaan regionalisasi penelitian untuk menunjang pembangunan pertanian Indonesia. kebijakan tersebut diikuti dengan terbentuknya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian ( BPTP ), loka Pengkajian Teknologi Pertanian ( LPTP ) dan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian ( IP2TP ) yang berada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ( SK Mentan No. 798/OT.210/12/94, tanggal 13 Desember 1994 ).

Tujuan pembentukan BPTP Sulawesi Selatan adalah, untuk mewujudkan sebuah institusi penelitian dan pengembangan pertanian wilayah dapat memainkan peranan dalam penyediaan teknologi pertanian spesifik lokasi untuk mendukung pembangunan pertanian daerah yang bernuansa agribisnis. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai, adalah; ( 1 ) mewujudkan upaya regionalisasi dan disentralisasi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian berdasarkan keragan sumberdaya pertanian daerah, ( 2 ) mendorong percepatan pembangunan pertanian yang berorientasi agribisnis melalui penyedia rekayasa paket teknologi pertanian spesifik lokasi, ( 3 ) mempercepat transfer teknologi kepada pengguna dan penyampaian umpan balik bagi penajam program penelitian dan pengkajian.

Berdasarkan SK Mentan No. 798/OT.210/212/94, tanggal 13 Desember 1994, di Sulawesi Selatan terbentuk Instansi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian ( IP2TP ) Ujung Pandang, dari Balai Informasi Pertanian Ujung Pandang, IP2TP Gowa dari Sub Balitnak Gowa dan Sub Balittas Bajeng, IP2TP Jeneponto dari Sub Balithor Jeneponto, IP2TP Mariri dari Sub Ballittan Mariri, IP2TP Bone-bone dari Sub Balitka Bone-bone.

Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian ( IP2TP ) Ujung Pandang di Sulawesi Selatan merupakan unit kerja dibawah pembinaan langsung BPTP Kendari, Sulawesi Tenggara baik administrasi maupun teknis. Kemudian IP2TP Ujung Pandang diberi kewenangan oleh kepala pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial ekonomi Pertanian untuk mengelola langsung kegiatan penelitian dan pengkajian dari semua IP2TP yang ada di Sulawesi Selatan dibawah koordinasi BPTP Kendari. Pembinaan administrasi masih di BPTP Kendari. Stasiun Penelitian Tanah Maros diserahkan dari Balitjas Maros tahun 1997 ke IP2TP Ujung Pandang. Pemda Sulawesi Selatan mengharapkan agar status IP2TP Ujung Pandang ditingkatkan statusnya menjadi BPTP berdasarkan surat Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 520/5456/Bappeda, tanggal 18 November tahun 2000.Dalam upaya meningkatkan daya guna dan hasil guna pelaksanaan tugas dan fungsi pengkajian teknologi pertanian spesifik lokasi, maka status IP2TP Ujung Pandang berubah menjadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 350/KPTS/OT.210/6/2001, tanggal 14 Mei 2001, ditunjang dengan kebun percobaan ( KP ) yang ada di Sulawesi Selatan dan Laboratorium masing-masing adalah; KP. Mariri di Kab. Luwu Utara, KP. Bone-bone di Luwu Utara, KP. Jeneponto di Jeneponto, KP. Gowa di Gowa dan Laboratorium Tanah Maros di Maros.