Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | Statistik Pengunjung Website | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Info Teknologi >> Koleksi Sumberdaya Genetik Lokal di Sulawesi Selatan


Kamis, 11 April 2017 08:48

Sulawesi Selatan memiliki luas wilayah sekitar 45.764,53 km2 yang meliputi 21 Kabupaten dan 3 Kota. Terletak antara 0o12' - 8o LS dan 116o48' – 122o36' BT. Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar 67 aliran sungai, dan 4 danau yakni Danau Tempe dan Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo, serta Danau Matana dan Towuti yang berlokasi di Kabupaten Luwu Timur. Wilayah daratan terdiri dari berbagai tipologi lahan seperti lahan sawah 576.964 ha, lahan kering 1.904.876 ha dan lainnya 2.064.980 ha, (BPS, 2011). Kondisi alam tersebutakan mempengaruhi keragaman sumberdaya genetik yang ada. Beberapa koleksi SDG spesifik lokasi yang dimiliki Sulawesi Selatan diantaranya adalah Talas Upe, Talas Bite, Cabai Katokkon,Tamarillo Katarrung, dan Markisa Marakusa, dimana telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian.

1. Talas Bite’ dan Talas Upe’

Talas merupakan salah satu makanan pokok selain beras, namun karena keberadaannya yang masih sangat jarang membuat Talas Bite’ dan Talas Upe’ menjadi mahal harganya di Toraja karena masyarakat mempercayai khasiatnya sangat bagus untuk penderita diabetes. Jika dilihat sekilas, bentuk Talas Bite’ mirip buah salak sedangkan Talas Upe’ cenderung bulat dengan  ukuran kecil. Talas ini biasanya dikonsumsi dengan cara direbus saja karena dianggap lebih menyehatkan.Di Toraja Utara Talas Upe’ biasanya tumbuh di daerah sawah atau daerah yang berair.Selain sebagai penghasil kalori yang produktif, biaya produksi yang relatif rendah serta daya adaptasi yang luas menjadikan talas dianggap sebagai bahan pangan yang potensial pada masa mendatang.Talas Bite’dan Talas Upe’ telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dengan nomor tanda daftar 157/PVL/2014 untuk Talas Bite’ dan  156/PVL/2014 untuk Talas Upe’.

Talas Bite’ banyak tubuh di Kelurahan Mantirotiku, Kecamatan  Rantepao, Kabupaten Toraja Utara.Umur tanaman 7 – 8 bulan. Tinggi tanaman 43-48 cm. pelepah/pohonberjumlah 3-4 helai dengan panjang pelepah 35-40 cm. Pelepah batang berwarna hijau kekuningan. Diameter pangkal batang sekitar 4,2-4,5 cm. Daun bagian atas berwarna hijau tua berlilin dan daun bagian bawah berwarna hijau muda dengan tulang daun jelas. Pinggir daun berwarna ungu kekuningan. Panjang daun 28,4-31,7 cm dan lebar 13,3-18,7 cm. Ujung daun runcing, Daun berbentuk bangun perisai. Umbi berbentuk bulat telur melebar pada pangkal umbi. Kulit umbi berwarna putih kekuningan. Keadaan mata rata tidak menonjol. Kulit umbi agak kasar dan tekstur daging halus. Panjang umbi 10,2-13,2 cm dan diameter 3,9-4,2 cm. Berat umbi/biji 95-105 cm. Berat umbi/rumpun 1,5-2 kg. Beradaptasi dengan baik di ketinggian 750 hingga 2000 m dpl.

Talas Upe’ tumbuh di Desa Baruppu’ Parodo, Kecamatan Baruppu’, Kabupaten Toraja Utara. Tanaman berumur 9 – 10 bulan. Tinggi tanaman83 - 87 cm. Pelepah/pohon berjumlah4 – 5 helai dengan panjang  67 – 75 cm. Pelepah batang  berwarna hijau muda sampai merah hati. Diameter pangkal batang 4,2 – 4,5 cm. Daun bagian atasberwarna hijau tua dan berlilin. Daun bagian bawahberwarna hijau. Pinggir daun berwarna ungu. Panjang daun 37-39 cm dan lebar 24-26 cm. Daun berbentuk bangun perisai.Umbi berbentuk  bulat telur melebar pada pangkal umbi. Kulit umbiberwarna kuning sampai merahhati. Daging umbiberwarna kuning sampai ungu. Keadaan mata menonjol. Kulit umbi kasar. Ukuran umbi dengan panjang 18-20 cm, diameter 3,5-4,25 cm. Berat umbi per biji 585-689 gram. Berat umbi/rumpun 1,5- 2 kg. Cocok untuk dataran tinggi> 1500 m dpl dan optimal pada 1700 m dpl.

 

Keunggulan Tala Bite’ adalah mudah dibudidayakan karena mudah tumbuh dimana saja. Sedangkan keunggulan Tala Upe’ adalah pada ciri khasnya yaitu saat pembibitan dilakukan pada lahan kering (kebun) sampai umur 3 – 4 bulan, setelah itu dipindahkan untuk ditanam di sawah/kolam yang tergenang air jernih sampai panen.  Manfaat Talas Bite’ dan Talas Upe’ antara lain sebagai sumber energi karena mengandung banyak kalori yang diperoleh dari karbohidrat kompleks yang dikenal sebagai amilosa dan amilopektin, baik buat pencernaan karena mengandung banyak serat, sehat untuk jantung karena mengandung banyak kalium yang merupakan komponen penting yang membantu mengatur detak jantung, membantu menstabilkan tekanan darah khususnya yang mengidap hipertensi, meningkatkan sistem imun tubuh, kemampuan dalam membuang radikal bebas dan regenerasi sel membuat umbi talas berperan sebagai anti aging.

2. Cabai Katokkon

Selain Talas Bite’ dan Talas Upe’, SDG yang tidak kalah penting dikembangkan adalah Cabai Katokkon. Juara pedas asal Toraja ini memiliki cita rasa yang sangat pedas. Di Toraja cabai ini merupakan salah satu kekayaan lokal yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan lebih lanjut. Pasalnya, cabai katokkon ini bukan sembarang cabai, dari segi bentuknya sangat unik dan tidak seperti bentuk cabai pada umumnya.Jika dilihat sekilas, bentuk cabai katokkon mirip paprika merah. Namun, bedanya, cabai ini berukuran kecil.Cada Katokkon di Toraja memiliki nilai sosial sangat tinggi. Pasalnya, masyarakat setempat hanya menggunakan cabai ini sebagai bumbu masakan pada momen perayaan tertentu seperti syukuran ataupun perayaan hari besar.Cabai Katokkon hanya bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi, sekitaran 1000 hingga 1500 m dpl. Cabai Katokkon telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dengan nomor publikasi 055/BR/PVL/02/2014.

Cabai Katokkon tumbuh di Desa Basokan, Kecamatan Vanggala, Kabupaten Toraja Utara. Daun berbentuk bulat dengan ujung meruncing. Daun berwarna hijau tua. Bentuk tanaman seperti payung. Batang berwarna hijau. Tinggi tanaman 30-100cm. Bunga ber- bentuk bulat bergelombang dan berwarna putih. Buah muda berwarna hijau.Buah matang berwarna orange sampai merah terang. Buah masak berwarna merah terang sampai  merah hati. Diameter buah2,3 – 3,8 cm. Berat buah 4-6 g/buah. Umur simpan 7-10 hari. Umur panen91 hst. Umur berbunga 45 hst. Biji berbentukbulat pipih. Panjang daun4-8 cm dan lebar 3-6 cm.

Keunggulan Cabai Katokkon dibandingkan cabai yang lain adalah dari bentuk dan rasanya. Bentuk Cabai Katokkon berbeda dari bentuk cabai pada umumnya yakni seperti paprika tetapi ukurannya lebih kecil. Aroma Cabai Katokkon sangat khas dan tercium sangat pedas di hidung menjadikannya terkenal di Indonesia dan menjadi incaran utamanya bagi mereka yang penggemar pedas. Cabai Katokkon memiliki tingkat kepedasan sangat tinggi, yakni sekitar 400.000–691.000 SHU (Scoville Heat Unit). Cabai Katokkon yang pendek dan gendut ini merupakan salah satu cabai terpedas di dunia.

Manfaat yang didapat saat mengkonsumsi Cabai Kotokkon ini yakni menambah nafsu makan, obat awet muda karena bisa memperlambat penuaan, anti stres, membantu mengatasi masalah persendian, menurunkan kolesterol, melancarkan aliran darah, mencegah stroke, meredakan batuk berdahak, melegakan hidung tersumbat, meredakan migran dan masih banyak lagi.

3. Tamarillo Katarrung

Tamarilo Katarrung atau biasa disebut terung Toraja(Chypomandra betaceae (Cavaniles) Sandtner) tergolong buah-buahan dataran tinggi dan merupakan buah unggulan Kabupaten Toraja Utara. Jenis komoditi ini bisa diusahakan secara monokultur ataupun tumpang sari. Komoditi ini mempunyai prospek pasar untuk mensuplai kebutuhan hotel. Tanaman ini termasuk tanaman pekarangan dan baru dikembangkan sebatas welcome drink di Tana Toraja, dapat dikonsumsi dalam bentuk juice segar dan selai. Komoditas ini banyak disukai oleh turis mancanegara dan domestik, karena mengandung banyak vitamin. Tamarilo Katarrung ini telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dengan nomor publikasi  037/BR/PVL/04/2015.

Tamarillo Katarrung tumbuh di Desa Pulu-Pulu, Kecamatan Buntu Pepasan, Kabupaten Toraja Utara. Tinggi tanaman2,2 - 2,4 cm (umur 2,5 - 3 tahun). Lebar tajuk 2,6–3,2 m (umur 2,5-3 tahun). Batang bulatdan berempelur,berwarna hijau pada tanaman muda,abu-abu kehijauan pada tanaman tua. Lingkar batang20-25 cm.Daun berbentuk jantung.Daun bagian atas berwarnahijausampaihijau tua dan bagian bawah berwarma hijau muda sampai hijau tua.Tulang daunmenyirip.Tangkai daunberwarna hijau. Panjangdaun29 – 38 cm danlebar22–27cm. Panjang tangkai daun10 – 15 cm. Daun/tangkai berjumlah 3-5 helai. Bunga mekar berbentukbintang dengan 5 helai daun mahkota. Mahkota bungaberwarna ungu keputihan.Jumlah bunga/tandan  32-49. Umur panen 40 - 45 hari setelah bunga mekar. Buah berbentuk bulat telur dengan pangkal dan ujung yangruncing. Panjang buah9,2 - 9,4 cm  dengan diameter buah5,0 – 5,3 cm. Buah matang berwarna  merah kecoklatan. Daging buah ber-warna kuning kemerahan. Ketebalan daging buah : 0,8 – 0,9 mm. Biji berbentuk bulat dan pipihberwarnakuning dan dilapisicairan hitam keunguan. Berat per buah 49 – 55 gram. Beradaptasi denganbaik di ketinggian 800-1200 m dpl.

Tamarillo Katarrung tidak sama bentuk dan rasanya dengan terung pada umumnya. Keunggulan Tamarillo Katarrung  adalah bentuk buahnya yang unik yang terlihat seperti tomat tetapi berbentuk lebih kecil seperti telur sungsang. Tamarilo Katarrung memiliki kulit buah yang licin dan tipis dengan warna merah keunguan jika sudah matang sedangkan yang masih muda berwarna hijau dan kelamaan akan berubah menjadi kuning dan pada akhirnya berubah menjadi merah keunguan. Daun buah ini juga memiliki bentuk yang unik. Buah terong belanda mempunyai rasa yang manis asam dengan bau yang khas.

Tamarilo Katarrung memiliki kalori yang rendah, dalam 100 gram Tamarilo Katarrung hanya mengandung 31 kalori. Tapi, kandungan lemak, protein, dan kalorinya lebih banyak daripada tomat. Kandungan serat, mineral, antioksidan, dan vitamin Tamarilo Katarrung juga tinggi. Rasa asam dari Tamarilo Katarrung hadir dari citric acid dan malic acid yang penting bagi tubuh. Diantaranya dapat menjaga daya tahan tubuh, membuat gigi dan mulut tetap sehat, mengurangi risiko keracunan bahan logam, serta membuat kulit lebih lembut. Antioksidan yang terdapat dalam kulit Tamarilo Katarrung membantu menurunkan kadar gula darah dalam diabetes mellitus tipe II.

4. Markisa Marakusa

Kabupaten Toraja Utara adalah daerah penghasil buah markisa terbesar setelah Malino di Kabupaten Gowa. Jenis markisa yang ada di Toraja adalah jenis markisa ungu (Passiflora edulis). Jenis markisa ini paling cocok tumbuh di dataran tinggi pada ketinggian 1000 - 2000 dpl dengan suhu rata-rata 20-230C dan beriklim basah sesuai dengan kondisi alam di Toraja. Markisa ungu ini telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian dengan nomor publikasi  036/BR/PVL/04/2015.

Markisa Marakusa berasal dari Desa/Lembang Pulu-Pulu, Kecamatan Buntu Pepasan, Kabupaten Toraja Utara. Bentuk tanaman mengikuti bentuk panjatan/lanjaran. Penampangbatang berbentuk bula dan berwarna hijau. Diameter batang2,6–3,0 cm (umur 1,5 tahun).Daun bagian atas berwarna hijau sampai hijau tua, dengan tekstur halus dan mengkilat Sedangkan bagian bawah daun berwarna hijau muda sampai hijau tua dengan urat daunnyata. Daun berbentuk menjari dan tepidaun bergerigi berwarna hijau. Panjang tangkai daun 3,5 – 4,0 cm. Panjang daun 11,7 – 12,6 cm danlebar 5,7 – 5,9 cm. Bunga berbentuk mangkok. Mahkota bunga berwarna putih kehijauan. Umur panen 85 - 95 hari setelah bunga mekar. Kecepatan berbuah 11 – 12 bulan. Buah berbentuk bulat lonjong. Berat per buah 51,33 – 55,43 gram. Ukuran buah dengan panjang 5,9 -6,6 cm, diameter 5,1 – 5,3 cm. Kulit buah matang berwarna ungu, kulit buah muda berwarna hijau mengkilat. Daging buah berwarna kuning emas. Bentuk biji lonjong dan hitam. Beradaptasi dengan baik di ketinggian 800-1200 m dpl. Kandungan air 73,39%, kadar gula3,48%, kandungan vitamin C0,065% dan Total asam62,22%.

Keunggulan markisa ungu dibandingkan markisa kuning adalah dari rasanya. Pada umumnya rasanya tidak terlalu manis ada sedikit rasa masam dan justru disitulah daya tariknya sehingga lebih banyak yang dijadikan sebagai sirup karena rasanya yang segar. Manfaat markisa ungu ternyata cukup banyak antara lain melancarkan pencernaan, pereda nyeri, anti-kejang, kolitis, penenang, dan antiradang. Gangguan seperti sembelit, disentri, insomnia, gangguan haid, batuk, serak, tenggorokan kering juga bisa dihalau dengan buah ini. Daging buah markisa digunakan untuk merilekskan saraf saat sakit kepala, meredakan diare, dan neurasthenia.

( Erina Septianti, Nurlaila dan Sahardi )

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 12 April 2017 10:04
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com